TRAVELING

Gunung Andong adalah salah satu gunung yang berada di Jawa Tengah. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1726 Mdpl dan sangat cocok bagi pendaki pemula. Dari Puncak pendaki dapat melihat Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, Prau, Ungaran, Telomoyo serta puncak Andong lainnya.

DUNIA PENDIDIKAN

Dari dulu sampai sekarang, bahkan sampai kapanpun, pendidikan sangatlah penting. jangan sia-siakan waktu kita untuk hal yang tidak bermanfaat. Mari memulai dengan membaca buku, membaca informasi, berita dan info-info penting lainnya yang bermanfaat.

KULINER

Horok-horok adalah salah satu makanan khas kota Jepara Jawa Tengah. Teksturnya yang kenyil dan terbuat dari sagu ini sangat cocok sebagai pengganti nasi untuk teman makan bakso, pecel dan lainnya. Harganya sangat murah berkisar seribu rupiah. kita bisa sangat mudah menemukannya di setiap warung bakso yang ada di Jepara. Silahkan mampir dan buktikan rasanya.

ANIME

Siapa yang tidak tahu dengan karakter Son Goku? atau Yugi? Naruto? sudah pasti kita semua tahu. Terutama anak-anak generasi 90-an sudah pasti hapal dengan mereka. Setiap minggu dari pagi sampai siang kita selalu anteng dirumah demi menunggu mereka ini. Tak terasa beberapa tahun berlalu, satu persatu dari mereka mulai menghilang dari pertelevisian kita. Entah kenapa, sekarang kita cuma bisa mengaksesnya via online.

BISNIS

Berbicara soal bisnis memang tak ada habisnya. Ide-ide baru, inovasi selalu bermunculan bersama berkembangnya zaman. Sebagian orang mungkin bingung dari mana memulai, mau usaha apa, dan seterusnya. Kita analisa dulu potensi daerah kita, apa yang dibutuhkan masyarakat, dan kerjakan. Memulai bisnis memang serasa menakutkan. Rasa ragu, tidak percaya dengan produknya dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya, lebih menakutkan lagi ketika kita punya planning bisnis tapi tidak pernah kita realisasikan.

Senin, 05 Oktober 2020

"Karyawan yang suka bolos, tapi gaji tak terbatas? Tak Tau Diri!"


 

Assalamu'alaikum wr. wb

Mungkin sudah banyak sekali tulisan-tulisan dari blog-blog lain membahas tentang tema ini, tapi disini saya lebih mengarah pada kacamata / cara pandang saya, tentang apa yang saya kerjakan, tentang kekhilafan saya dan masih banyak tentunya kekurangan-kekurangan lainnnya.

Lapar bukan satu-satunya alasan kita berebut makanan. Adakalanya kita saat kenyang juga masih bisa berebut makanan dengan alasan kita suka/hobi makan. Miskin juga bukan satu-satunya alasan untuk mengemis. Adakalanya seseorang yang mengemis karena sudah menjadi kebiasaan padahal dirinya mempunyai banyak harta.

Kita sebagai manusia yang hidup di bumi ini sudah pasti butuh makan, minum, dan tempat tinggal. Kebutuhan primer tersebut apabila tidak terpenuhi akan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup kita. Kita berusaha sangat keras, belajar dengan mendapat gelar sarjana bahkan profesor juga tidak terlepas untuk bertahan hidup dengan mendapatkan kehidupan yang layak terlebih dalam hal pangan sandang dan papan. 

Lalu, apa yang kita kerjakan, apa yang kita usahakan selama ini sebenarnya untuk siapa? untuk diri kita sendirikah? untuk keluarga? Saya rasa semua jawaban adalah benar.

Kembali pada judul tulisan ini, karyawan yang suka bolos tapi gaji tak terbatas? masak ada yang seperti itu? enak sekali. Tentu saja ada. Tema ini sudah banyak dibahas, kita ini semua adalah karyawan Allah. Allah yang menggaji kita. Apa yang kita kerjakan? Taqwa adalah jawabnya. Seperti yang kita ketahui, menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Lantas, dengan apa Allah menggaji kita? Semua yang ada adalah milik Allah. Udara, air, sumber alam lainnya semua milik Allah yang diberikan kepada kita. Alhamdulillah saya punya laptop, punya hp buat nonton yutub juga merupakan gaji dari Allah. Saya punya motor yang bisa saya pakai kuliah, jalan-jalan, nongkrong ke cafe itu juga adalah merupakan gaji dari Allah.

Apakah saya menjalankan tugas sebagaimana karyawan Allah? apakah saya bertaqwa? jawabnya adalah setengah-setengah. Saya menjalankan perintah dan juga megabaikan larangan-Nya. Yaaa beginilah saya dengan banyak kekurangan. Ada hal yang saya takutkan, meskipun sebenernya saya tidak boleh mencemaskannya. Saya takut Allah akan membatasi gaji saya, karena saya adalah karyawan yang buruk, suka bolos. Jika sampai Allah membatasi gaji saya, entah sekacau apa hidup saya tak bisa saya bayangkan.

Saya terkadang mencemaskan apa yang akan terjadi mendatang, saya merasa gelisah, takut. Tapi hal-hal buruk yang pernah saya bayangkan sebelumnya, ternyata tidak terjadi di kemudian hari. Allah selalu memberi lebih dari apa yang saya minta. Allah selalu penuhi dan cukupi kebutuhan hidup saya.

Saya merasa sebagai karyawan yang tidak tahu diri, yang menuntut gaji tinggi bahkan sudah diberi sampai tak terhingga tapi kerja gak bener/ suka bolos. Saya mencoba memperbaiki diri, bagi saya ini bukan hal yang mudah, tentu akan membutuhkan waktu.

Semoga dengan tulisan ini, saya bisa menjadi karyawan yang lebih baik, begitu juga dengan teman-teman semua. Aamiiin... semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum wr.wb

Share:

Sabtu, 11 Juli 2020

APA ITU TUJUAN?



Assalamu'alaikum wr. wb

Sudah sangat sering kita jumpai kata "tujuan" entah kita dengar langsung dari orang lain maupun tertulis dari media cetak seperti buku, koran, majalah, bisa juga dari sosial media lainnya. Misalnya dalam buku pelajaran, tujuan pancasila, tujuan pembelajaran, tujuan hidup, tujuan reproduksi, tujuan pemasaran, tujuan diskon, dan tujuan-tujuan lainnya. Terus, tujuan itu apa?

Sedikit cerita, foto diatas adalah foto ketika saya berserta teman-teman saya melakukan pendakian gunung Merapi sekitar Juli 2017. Pada akhirnya perjalanan kami lancar meskipun tentunya ada beberapa tantangan dan rintangan yang berhasil kami lalui. Setelah pendakian, saya post foto saya di story, dan ibu saya turut mengomentari "Ngono iku loh lapo?" (seperti itu tujuannya apa?), Loh kan balik lagi ke tujuan, tujuan itu apa?

Menurut para ahli, tujuan memliki makna sebagai berikut:
1. Tujuan adalah langkah pertama dalam proses mencapaik kesuksesan dan tujuan juga merupakan kunci mencapai kesuksesan. (Ken Mcelroy)
2. Tujuan adalah hasil akhir yang dapat diamati dan diukur memiliki satu atau lebih tujuan yang ingin dicapai dalam jangka waktu yang lebih atau kurang tetap. (Business Dictionary)
3. Tujuan adalah kunci untuk menentukan atau merumuskan apa yang akan dikerjakan. (Yayasan Trisakti)

Dari beberapa pendapat diatas, saya mengartikan tujuan dengan sesuatu yang ingin dicapai, sesuatu yang diharapkan, dan sesuatu yang butuh ketuntasan/penyelesaian.

Kembali lagi pada komentar ibu saya, saya menjawab : "Saya ingin sampai puncak, saya ingin tau diatas gunung ada apa, seberapa dekat saya dengan awan, apakah masih terlihat sekelompok burung terbang, atau mungkin adakah sumber mata air mengalir yang diolah dengan teknologi canggih lalu jadilah aqua? cuk malah iklan! Itu yang saya harapkan, itu yang saya ingin capai, dan itu juga yang perlu saya selesaikan.

Saya cukup antusias saat ada dosen yang mengatakan, "Penelitian (artikel, jurnal, skripsi, tesis, disertasi dll) yang baik adalah penelitian yang selesai. Bahasanya terdengar ringan, namun saya pikir berulang kali kok keren juga nih dosen ngomong seperti itu. Kita sudah sampai pada tujuan, apa yang kamu harapkan? bimbingan dengan dosen dimudahkan. Apa yang kamu inginkan? saya ingin penelitian saya segera selesai. Apa sudah kamu selesaikan? Alhamdulillah sudah. oke deh selamat kamu sudah berhasil sampai tujuan.

Kemudian di suatu pagi, "mau kemana mas?" saya mau ke alun-alun kota Malang pak. apa yang kamu harapkan? perjalanan ke alun-alun tidak macet. apa yang kamu inginkan? sampai di alun-alun dengan selamat. Apa sudah kamu selesaikan? belum pak, saya putar balik karena ada razia polisi di Landungsari, saya tidak pakai helm. Kamu belum sampai ke tujuan.

Jika membahas tentang tujuan jauh lebih dalam, maka mungkin akan muncul pertanyaan-pertanya sebagai berikut : setelah sampai tujuan terus ngapain? apa tujuan adalah hal yang disukai/disenangi? apakah tujuan bisa dibelokkan?apakah ada tujuan yang muncul secara tiba-tiba? mungkin masih banyak lagi pertanyaan lainnya, tapi kali ini kita bahas yang ini dulu.

Setelah sampai tujuan ngapain? kamu pas udah sampai puncak gunung ngapain? kamu pas udah nyelesaian penelitian ngapain? kamu pas udah sampai di alun-alun kota malang ngapain? mempertahankan tujuan? atau gimana itu nanti penjelasannya. Kalau mengacu pada teori yang ada, bahwa ada yang namanya tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang, dengan begitu pun tujuan akan terikat dengan waktu. Jadi setelah sampai tujuan, maka akan muncul tujuan lagi, begitu seterusnya. Sampai atas gunung mau foto-foto buat story, habis nyelesaian penelitian mau ujian, setelah sampai alun-alun mau jajan,, misalnya.

Apa tujuan adalah hal yang disukai/disenangi? mungkin secara umum iya, apa yang kamu harapkan, apa yang kamu inginkan, apa yang perlu kamu selesaikan tentunya berkaitan dengan hal-hal yang membuat kamu nyaman, enak, saat kamu melakukannya. Tapi tidak semuanya seperti itu, kamu dan teman-temanmu berencana pergi ke Coban Talun, yang entah mungkin kamu sudah bosan atau tidak suka dengan tempatnya, memutuskan satu tujuan dengan temanmu atas dasar solidaritas, paksaan dan lain sebagainya.

Apakah tujuan dapat dibelokkan? Tentu sangat bisa sekali. Kebanyakan dari kita belum sampai tujuan karena belum menuntaskan/belum menyelesaikannya. Tapi bisa juga tujuan yang berbelok adalah dari apa yang kita inginkan dan kita harapkan telah mengalami perubahan. Hal ini disebabkan pikiran kita sendiri, juga dengan hubungan sosial. Misalnya, kita punya teman janc*k (baca: baik dunia akhirat), kita dari kosan sudah punya tujuan beli martabak, ketemu sama teman di jalan lalu dia ngajak kita nongkrong semaleman di cafe. contoh lain, si Udin sedang deketin Depi, tapi si Depi tidak suka Udin. Maka Depi membelokkan perhatian (nyomblangin) Udin buat si Ayu. Tujuan Udin adalah Depi, yang diharapkan yang diinginkan adalah Depi, tapi Udin belum menuntaskan. Kemudian malah berbelok kepada Ayu atas pembelokkan si Depi.

Apakah ada tujuan yang muncul secara tiba-tiba? kalau dipikir-pikir kok konyol sekali ya, masak gak punya tujuan. masak nunggu tujuan datang dengan sendirinya, kalau ide mah beda lagi bisa-tiba-tiba muncul, lantas kalau tujuan gimana?? tak perlu jauh-jauh dipikirkan, kita juga sering kok mengalaminya. "mau kemana ini kita?, duh aku juga gak tau". "uangnya mau kita belikan apa ya?, bingung gak tau". Lalu tujuan itu munculnya kapan?? pernah gak saat lagi motoran gatau tujuan kemana tiba-tiba yakin banget kita harus kesini deh, kita harus beli ini deh. Hal itu terjadi secara reflek saat kita melihat sesuatu yang menarik, menantang, menggiurkan, dan susah untuk ditolak.


Selain penjelasan diatas, tentunya ada hal yang tidak kalah penting dalam bahasan tujuan, yakni proses. Coba kita pahami, saat kita sampai pada tujuan, apa yang akan kita bicarakan/ceritakan kepada orang lain? apakah tujuannya kah, atau apanya? kebanyakan dari kita pasti akan menceritakan prosesnya, disengaja maupun tanpa disengaja. Mengapa begitu? Misalnya, saya mendaki gunung Merapi, saya ataupun orang lain tentu akan memulainya dengan berapa jam perjalanannya? ada badai gak?? apa yang dibahas? Proses.

Kita menyelesaikan penelitian, lalu saat bertemu teman, apa yang dibahas? eh gimana bimbinganmu? lancar gak? dosen kamu tukang modus gak? Aku loh sampai bela-belain kerumahnya dan lainnya. Apa yang ditanyakan? masih tentang proses. Kamu katanya kemarin ke Malang motoran ya? gimana macet gak? berapa jam? Ujan gak? apa yang dibahas? Proses lagi.

Kemudian terkahir, biar lebih mudah ketidaksampaian kita pada tujuan sebut saja dengan kegagalan. Tujuan kita adalah jadi juara 1, jadi wisudawan terbaik, ingin sampai puncak gunung, dan lain sebagainya. Tapi kita hanya bisa menjadi juara harapan 3, kita hanya sampai pada pos 3 tidak sampai puncak, kita hanya menjadi wisudawan biasa, jangan risaukan itu semua. Bersyukurlah. Karena seperti yang dijelaskan sebelumnya, kebanyakan orang ingin tau gimana prosesmu, bukan tujuanmu. Bagaimana billgates kaya, bagaimana neil amstrong ke bulan dan masih banyak lagi. Semua adalah tentang proses. Karena dalam sebuah kegagalan atau tujuan yang tidak tertuntaskan pasti ada sebuah pembalajaran untuk kemajuan.

Wassalamu'alaikum wr.wb
Share:

Selasa, 31 Maret 2020

Dalam Hidup Aku Bertanya, Dalam Mati Aku Menjawab


Assalamu'alaikum Wr.Wb

Manusia dalam sudut pandang Islam, diciptakan dalam dua dimensi, yaitu dimensi 'Abdullah dan Khalifatullah. Dimensi 'Abdullah mengehendaki manusia untuk selalu tunduk dan berserah diri sepenuhnya pada Sang Khaliq melalui aturan-aturan hidup yang dibawa oleh Rasul-Nya. Secara sederhana, dimensi ini membicarakan hubungan Khaliq dengan Makhluq (Hablum min Allah). Sedangkan dimensi Khalifah sendiri berkaitan dengan hubungan makhluk dengan makhluk / manusia dengan manusia (Hablum min an-Naas), dimana manusia selaku wakil Allah di Bumi ditugaskan menjaga dan melestarikan bumi.

Pada dasarnya, fase hidup manusia ada empat tahap. Pertama manusia itu mati, kemudian Allah menghidupkannya, setelah itu mematikan lagi, dan akhirnya menghidupkan lagi. Pada fase kedua itulah manusia hidup di dunia ini, kemudian ketika tiba waktunya, ia akan diwafatkan oleh Allah SWT dan berada di alam barzah untuk menunggu hari kebangkitan. Setelah manusia dibangkitkan lagi dari kematian, maka itulah kehidupan yang abadi. Bagi manusia yang semasa hidupnya menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, maka surga adalah tempat ia menjalani kehidupan abadi. Sedangkan manusia yang gagal menjalankan tugas-tugasnya akan menjadi penghuni neraka yang penuh dengan siksaan.

Maksud dihidupkannya manusia di bumi ini adalah sebagai proses mencari kebahagiaan di kehidupan yang abadi kelak. Jdi, dunia ini bukanlah tujuan akhir manusia, melainkan awal dari perjalanan mencari kebaghagiaan yang abadi di kehidupan yang abadi. Allah SWT memebrikan aturan-aturan kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan itu melalui para utusan-utusannya. Peraturan itu sering dikenal dengan syari'at yang selain di dalamnya berisi tentang perintah-perintah, melainkan juga berisi larangan-larangan.

Tentunya tidak ada manusia yang menginginkan kesedihan dan menolak kebahagiaan. Semuanya ingin mendapatkan kebahagiaan baik kebahagiaan dunia yang semu, ataupun kenahagiaan akhirat yang abadi. Oleh sebab itu, setiap manusia akan berlomba-lomba melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi serta meninggalkan larangan-larangan-Nya. Sudah sepatutnya jika manusia berusaha meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Akan tetapi, kita sebagai manusia harus selalu ingat, nahwa manusia hanya bisa berusaha. Akhirnyam hanya Allah SWT lah yang memutuskan.

Kita yang beragama Islam setiap hari selalu sholat lima waktu, selalu puasa di bulan Ramadhan, selalu berzakat dan bersedekah, selalu berbuat baik, dan lain sebagainya. Tapi, apakah dengan amal-amalan itu kita dapat menjamin diri kita masuk ke dalam golongan-golongan orang yang beruntung, atau justru kita akan masuk golongan orang-orang yang hina. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan "Dalam Hidup Aku Bertanya". Bertanya-tanya tentang kualitas ibadah kita, apakah mampu mengantarkan kita menjadi pribadi yang akan memperoleh ridho-Nya yang akhirnya mengantarkan kita untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat atau tidak?

Kemudian dilanjutkan dengan "Dalam Mati Aku Menjawab". Maksudnya ialah pertanyaan kita tentang kualitas ibadah kita di atas hanya akan terjawab ketika kita telah mengakhiri kehidupan kita di dunia ini. Apakah sholat kita mampu mengantarkan kita menjadi mulia di sisi Allah? Apakah puasa kita mampu menjadikan kita istimewa di sisi-Nya? Apakah zakat yang kita keluarkan mampu menjadikan kita suci di hadapanNya? Semua itu bisa terjawab ketika kita telah meninggal dunia.

Jika memang demikian, apakah kita lantas berputus asa meraih kebahagiaan dunia dan akhirat - terlebih kebahagiaan ukhrowi? Tentu tidak, justru ini seharusnya bisa memotivasi kita untuk semakin taat beribadah. Kita harus - dari hari ke hari semakin meningkatkan ibadah kita. Terlepas dari diterima atau tidaknya ibadah kita, itu bukan lagi menjadi kewenangan kita. Yang pasti adalah Allah SWT tidaklah tidur, Allah SWT Maha Mengetahui segalanya yang tampak atau tidak. Allah SWT mengetahui akan ketulusan kita beribadah jika kita memang benar-benar tulus. Begitupun sebaliknya, Allah SWT pun tahu jika ibadah-ibadah kita tidak murni karena-Nya, melainkan karena yang lainnya.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, yang baru-baru ini dari virus korona (covid 19)
Semoga segera membaik, Aamiin. #Dirumahaja

Wassalamu'alaikum Wr.Wb


Share:

Senin, 10 Februari 2020

Anak-anak : "Mau Tanya dong kak?"


Assalamu'alaikum wr. wb
Sesuai dengan story wa kemarin, pada tulisan ini saya akan membahas sedikit tentang anak-anak.
Masa anak-anak adalah masa yang sangat menyenangkan, masa dimana seakan permasalahan hidup terbesar adalah PR Matematika dan uang jajan habis gak bisa beli es dong hahaha. Setiap hari setelah jam-jam sekolah umumnya akan dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman. Mungkin agak sedikit berbeda anak-anak zaman dulu dengan zaman sekarang.

Kalau dulu belum pada megang hp, mainannya pun masih tradisional pakai peralatan seadanya, kalau punya duit mentok paling main ke rental PS1. Kalau gapunya duit ya minimal bisa ikut nonton temen yang lain main PS, sama-sama serunya kok hihi. Kalau anak-anak sekarang kan sudah beda. Rata-rata anak sd sudah pada minta dibelikan hp. Buat apa? ya buat mabar dong sama teman-teman. Masak iya cuma bengong aja, kasian deh wkwk

Selain itu, masa anak-anak juga masa dimana rasa ingin tahunya sangat tinggi. Mungkin dulu waktu kita kecil. ada beberapa pertanyaan aneh yang kita tanyakan kepada orang tua kita, guru, teman dan orang dewasa lainnya. Smapai-sampai membuat mereka kebingungan menjawabnya. Kalau dipikir pikir, yang sulit adalah bukan serta merta pertanyaannya, akan tetapi jawaban untuk memahamkan si penanya yaitu anak-anak tersebut agar bisa memahami jawaban. Nah loh, lalu gimana ya itu?

Saya masih ingat, dulu waktu kecil pernah menanyakan hal-hal aneh kepada orang dewasa. Saya merasa kecewa, karena respon mereka malah menghiraukan, malah menanyakan balik, "takok opo leh, takok aneh-aneh ae, mboh wis pikirin dewe" hahaha kurang lebih seperti itu. Kemudian 15 tahun telah berlalu, saya mengingat kembali beberapa pertanyaan yang saya ajukan, dan pastinya saya sekarang sudah menemukan jawabannya sambil ngakak ngakak. Nah berikut, ada pertanyaan titipan dari teman-teman waktu kecil mereka, yang dulu mereka belum menemukan jawabannya ahaha saake rak dianggep rek :

1. Apakah orang dewasa lebih baik dari pada anak-anak?
Fenomenanya yang mungkin terjadi waktu kita masih anak-anak adalah pasti ketika ada suatu obrolan dan anak-anak ikut ngomong, padahal obrolan ringan, kebanyakan pasti tidak ada yang menanggapi. Parahnya bahkan ada yang memarahi, katanya tidak sopan. Kemudian ketika anak-anak ingin ikut bermain dengan kakak kelasnya, pasti mereka bilang kamu masih kecil, gak boleh ikut-ikutan main ini main itu.

Kemudian saat dalam permainan sepak bola, ketika ada bola yang kena jendela rumah orang, bola jebur ke kali, pasti yang paling kecil anak-anak disuruh untuk bertanggung jawab meskipun bukan ia pelakunya. Jadi sebetulnya apakah perbedaan baik buruknya anak-anak dan dewasa sejauh itu ya? hahaha jadi beberapa tindakan orang dewasa akan menjadi contoh anak-anak yang melihat. Dengan rasa bangga dan menggap hal tersebut sudah sangat baik dan keren hihi

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mungkin bisa seperti ini, hanya contoh :
Jangan ajarkan kepada anak-anak bahwa "anak-anak" adalah antonim dari "orang dewasa". Jika anak-anak sudah diajarkan hal tersebut, maka mereka akan beranggapan bahwa orang dewasa jauh lebih baik. Sebaiknya bilang saja, orang dewasa hanya berbeda , tidak lebih baik dan tidak lebih buruk. Bahwa mereka orang dewasa juga awalnya anak-anak seperti dirimu sekarang.

Orang dewasa juga bisa saja baik dan buruk, ramah dan jutek atau lainnya. Jadi tidak bisa hanya karena mereka orang dewasa maka anak-anak harus mempercayai, mengikuti dan membenarkannya.

2. Mengapa saya adalah saya?
Meskipun ujaran kalimat tanyanya tidak persis seperti itu, tetapi maksudnya adalah sama. Pertanyaan ini muncul ketika anak-anak pertama kali menghadapi masalah identitas pribadi. Kita menanyakan kepada orang tua, teman, dan orang dewasa lainnya kenapa kita begini, kondisi kita begini dan lainnya. Biasanya sering berhubungan dengan penampilan, kepribadian, dan kebiasaan.
Misalnya dulu waktu anak-anak, maaf, kok kurus terus yaa, sudah banyak makan tapi kok gak bisa gemuk ya. Sudah pakai bedak pakai sabun macem-macem kok masih item ya. Sudah belajar terus tapi kok gampang lupa dan nilai ulangan bisa jeblok ya? Saya kini kenapa ta??

Untuk menjawab pertanyaan, mungkin bisa seperti ini, hanya contoh :
Cobalah untuk menjelaskan bahwa setiap manusia itu unik. Kita mendapatkan fitur wajah dari orang tua kita. Kepribadian kita terbentuk di rumah, di taman kanak-kanak, dan di sekolah. Seseorang juga bisa mengadopsi beberapa kebiasaan mereka dari teman mereka. Jadi, pada dasarnya, segala sesuatu yang kita lihat dan dengarkan akan membekas. Seorang anak harus menyadari bahwa beberapa orang mungkin saja terlihat sama, beberapa memiliki banyak kesamaan, namun tidak ada 2 orang yang benar-benar identik.begitu yaa hihi

3. Mengapa si anu membenci saya? apa salah saya?
Kasus perbullyan memang sudah menjadi budaya pergaulan di masa anak-anak maupun orang dewasa. Entah memanggil teman dengan sebutan orangtuanya, atau mungkin memanggil teman dengan keadaan fisiknya. Ya begitulah, tetapi zaman dulu tidak seekstrim sekarang yang mana lebih mengarah pada kekerasaan.

ketika seorang anak yang dilingkungan rumah selalu diperlakukan baik oleh orang tuanya, kemudian saat bergaul dengan teman-temannya dia dipanggil bodoh, jelek dan lain-lain tentu itu bukan hal yang biasa baginya. Tidak tau salah apa malah dijadikan musuh, dijauhi, bahkan tak ada angin tak ada hujan mau diajak berantem hahaha. Sebenarnya salah saya loh apa ta?

Untuk menjawab hal tersebut, mungkin bisa seperti ini, hanya contoh :
Cobalah menjelaskan  kepada anak-anak bahwa tidak apa-apa jika orang tidak saling menyukai. Wajar saja, sama seperti dia suka es krim vanilla sementara orang lain lebih menyukai es krim cokelat. Anak-anak harus mengerti bahwa jika seseorang tidak menyukai dia, hal itu tidak serta-merta membuat dirinya menjadi orang yang buruk. Bisa jadi cuma sensasi wkwk bercanda.

Kemudian pesan saya, saat kita ditanya oleh anak-anak, seaneh apapun pertanyaannya, tolong jangan abaikan. Mereka lagi dimasanya, memang begitu. Kognitif mereka sedang berkembang, jawab dengan jawaban yang mudah diapahami oleh mereka. Bisa jadi jawaban kita menentukan pribadi mereka di masa depan lohh kayak entuk pencerahan ngono kui wkwk ganjaran lurdd 

uwis yaa hhaha sebetulnya masih ada beberapa pertanyaan lagi titipan dari teman, karena sudah banyak yang ditulis, ya capek dan agak malas juga. Untuk pertanyaan selanjutnya disimpan dulu dan akan dilanjutkan pada pembahasan berikutnya insyaallah nek ora males hahaha harap maklum. Semoga bermanfaat.

Wassalamu'alaikum wrb. wb

Share:

Rabu, 05 Februari 2020

Proses Malas


Assalamu'alaikum wr.wb

Pada tulisan kali ini, saya hanya ingin bercerita, tidak ada filsafat, dalil, maupun lainnya. Jadi tolong dibaca dengan santai ya, siapkan kopi, rokok, gorengan atau cemilan semacamnya hihi...

Saya adalah seorang mahsiswa di salah satu kampus di kota Malang. Seperti halnya mahasiswa lainnya, keseharian saya tidak pernah luput dari kampus, dosen, dan juga tugas. Sekarang saya sedang berada di zona bahaya wkwk zona sudah tidak ada lagi kuliah di kelas, zona harus mandiri dan zona sabar dalam mengejar "kasih sayang dosen", apalagi kalo bukan zona pertesisan.

Saya punya banyak planning, punya banyak persiapan, punya banyak harapan baik untuk proses perkembangan karya ilmiah saya. Misalnya, besuk harus bangun pagi, lalu jam 7 harus sudah mandi, kemudian janjian sama dosen untuk bimbingan, kemudian pasti ada beberapa perbaikan dan itu wajar, kemudian besuknya bimbingan lagi dan seterusnya sampai tesisnya bisa terselesaikan.

Tetapi, kemarin ada beberapa hal aneh yang tiba-tiba merubah niat saya, planning yang sudah begitu matangnya entah bisikan setan, jin, iblis atau kawan-kawannya saya juga tidak tahu. Saya awali dengan bangun pagi dengan bantuan beberapa alarm, setelah itu keluar kamar kok masih dingin yaa, apa nanti gak masuk angin jika langsung mandi haha. Akhirnya masuk lagi ke kamar, pakai selimut. Terpikirkan lagi, mosok mau tidur lagi? sebenenya cuaca dingin sangat pas untuk ngebo. Yasudah buka hp aja deh, browsing-browsing materi buat tambah-tambah bahan.

Lalu, terpikirkan lagi mosok cuma dikamar aja ta? akhirnya saya keluar kamar. Lalu ngapain ya enaknya? harusnya mandi dan janjian sama dosen. Tapi pikir saya, ngopi dulu deh gapapa sebentar buat ngangetin badan. OK, akhirnya saya bikin kopi. Setelah kopi habis, lalu ngapain ya? mandi woi seharusnya. Tetapi pikir saya, bersihin aquarium dulu deh kasian udah lama enggak dibersihin. Ok, akhirnya saya bersihkan aquarium dan membuuhkan waktu yang lebih lama. Ok, aquarium sudah bersih, tapi kok ruang tamunya agak berdebu ya, sekalian deh disapu bentar, mumpung udah kringetan tadi habis bersihin aquarium. 

Halooo??? kapan mandinya, kapan bimbingannya? setelah semua udah bersih, kok capek ya masih keringetan juga. Jangan langsung mandi, istirahat dulu aja deh nonton tv bentar gapapa. skip aja , dan akhirnya hari itu saya tidak jadi janjian untuk bimbingan dengan dosen, dan saya menyesalinya, serius hihi

Kemudian pertanyaannya : Apa yang saya lakukan tadi itu adalah bentuk rajin ataukah hanya siasat untuk menunda tujuan awal saya mandi pagi?? hahaha saya juga tidak tau, mungkin dua-duanya benar kali ya hahaha. Lalu, kira-kira bagaimana proses yang terjadi dalam otak saya ketika saya memikirkan dan melakukan beberapa hal diatas?? mungkin lebih enaknya saya sebut itu kemalasan diri saya.

Bagaimana terjadinya proses malas?? Bayangkan apa yang saya tulis ini adalah sebuah siklus yang ada ditengah-tengahnya ada seseorang, saya aja deh.

Berangkat dari rasa penyesalan sebelumnya, tentunya saya memikirkan bahwa ada yang kurang, kurang usaha, kurang doa dan masih banyak lagi. Lalu saya punya keinginan untuk memperbaiki, saya niatkan banyak planning, banyak persiapan untuk mendapat hasil yang maksimal.

Kemudian, masuk tahap selanjutnya adalah membayangkan proses. Besuk bangun pagi, mandi jam 7. Janjian sama dosen untuk bimbingan. Nah, kemudian muncul rasa khawatir yang berlebihan. Mandi jam segitu entar masuk angin kali ya, agak siangan dikit aja sementara ngelakuin hal lain aja, kan sama-sama bermanfaat. Iya deh iya deh

Selain itu, bayangan buruk juga muncul dipikiran. Udah mandi pagi-pagi, janjian  dosen ga di bales. disamperin ke kantor gak ada, kan sia-sia dong. Atau bisa jadi, udah mandi pagi-pagi niat baik-baik untuk bimbingan, udah bawa banyak referensi eh judul aja gak diterima, kurangnya dimana coba.

Setealah itu, muncul emosi negatif. Halah ngapain ah, udah usaha keras tapi hasilnya ditolak kan kamret mending tinggal main game saja enak wkwkwk. Kemudian emosi dan logika mulai mempertimbangkan stimulus tersebut, dan yang membuat diri nyaman maka dilakukanlah hal itu. Iya, main game saja deh, lagi pula masih ada waktu kok buat bimbingan di hari yang lain.

Akhirnya, pengambilan keputusan. Ok fix, hari ini gajadi bimbingan deh, besuk aja. Hari ini santai-santai aja dulu, kan dari kemarin udah fokus ngerjain. Jadi gapapa dong kalo cuma sante-sante beberapa hari ini saja.

Hahahaha lalu akihirnya menyesal. Balik lagi deh terus seperti itu. 
Saya sendiri menulis ini juga heran, teorinya tahu tapi prakteknya nol besar. Cuma omong-omong tok.
Tapi gapapa, yang penting tahu dulu dan sedikit demi sedikit mulai berbenah, kalian juga haha aaamiiin...

Semoga segala urusan kita selalu mendapat kemudahan dari Allah SWT 

Wassalamu'alaikum wr.wb


Share:

Senin, 27 Januari 2020

Stres?? Siapa Takut



Assalamu'alaikum wr.wb

Sebagai manusia tentu kita pernah berada pada kondisi entah gimana jelasinnya, bingung. Jiwa yang resah, hati yang gelisah, hati yang disakiti, perasaan marah, iri, dengki, lelah, lunglai seolah tanpa sinar dan energi, begitulah jiwa yang mengalami sesuatu.

Ibarat jiwa adalah sebuah perahu, jika perahu itu terlalu banyak muatan dan bergelombang, akan tenggelamlah ia. Begitu juga jiwa manusia, jika dimuati banyak masalah, dosa, noda, bercak, akan tenggelamlah ia sebagai manusia.

Manusia memanglah makhluk yang penuh keterbatasan. Jadi, sangat terdengar aneh sekarang jika ada seseorang yang mengatakan "saya tau soal ini, saya bisa soal itu". Singkatnya tau semua hal. Mungkin sudah ada disekitar anda, teman anda, atau bahkan mungkin anda sendri hahhaa.

Coba lihat,dalam memenuhi segala kebutuhan, seringkali kita berbenturan dengan kemampuan dan ketidakberdayaan. Untuk itu, ada yang namanya stres yang merupakan bagian dari kehidupan. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita selalu tantangan yang membutuhkan peranan pikiran, tubuh, dan emosi. Masalah-masalah yang kita hadapi merupakan bagian dari hidup dan sudah menjadi hukum alam karena tidak seorang pun dapat lepas dari masalah.

Stres selalu menjadi bayangan hidup. Sebagai mahkluk yang berakal, kekecewaan terhadap harapan-harapan yang tidak menjadi kenyataan, kondisi yang tidak sesuai, lingkungan yang tidak nyaman, sering menjadi sumber stres. Sebagai manusia yang berakal, hendaknya kita bisa mensiasati dan mengambil sikap jika suatu saat kita dilanda stres, seperti saya saat ini hahahaha stres parah wkwkwk.

Kita harus bisa selalu yakin dan optimis bahwa masalah yang kita hadapi pasti akan ada penyelesaiannya, yang tentunya kita tidak hanya berpangku tangan, tetapi kita harus selalu berusaha untuk mencari jalan keluarnya, termasuk juga ketika kita sakit, baik sakit fisik maupun psikis. Kita harus selalu berusaha karena pada dasarnya setiap penyakit itu ada obatnya, sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad (dari Jabir bin Abdullah) yang artinya kurang lebih :

"Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai sasarannya, maka dengan seizin Allah penyakit itu akan sembuh".

Intine ngene ae gan, stres iku akih penyebabe. Yo akeh tombone, seng penting yakin hahaha

Berdasarkan pendapat Abraham Maslow, apabila manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, maka ia akan mengalami gangguan jiwa atau stres. Maslow mengemukakan penyebab-penyebab stres antara lain :

Pertama, kebutuhan fisiologis. Ini merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap manusia untuk hidup, misalnya makan, minum, istirahat. Orang tidak akan memikirkan kebutuhan lainnya sebelum kebutuhan dasar ini terpenuhi, kecuali arek gendeng seng ora normal haha

Kedua, kebutuhan akan rasa aman. Setiap orang ingin terbebas dari rasa takut dan cemas. Manifestasi dari kebutuhan ini misalnya perlunya tempat tinggal, pekerjaan dan lainnya.

Ketiga, kebutuhan akan rasa kasih sayang. Perasaan memiliki dan dimiliki oleh orang lain atau kelompok masyarakat adalah kebutuhan oleh setiap manusia. Kebutuhan akan terpenuhi jika ada saling perhatian, saling mengunjungi sesama anggota masyarakat adalah sesuatu yang menyuburkan terpenuhinya kebutuhan ini. Nah, makanya saat seseorang putus cinta, jomblo, umumnya dia akan mengalami stres, gelisah, sedih, marah, kecewa dan campur aduk dikarenakan kasih sayang yang ia terima dari seseorang tiba-tiba menghilang duh saake wkwkwk

Keempat, kebutuhan akan harga diri. Setelah kebutuhan ketiga terpenuhi, maka pada tahap selanjutnya ada kebutuhan akan harga diri. Pada tingkat ini orang ingin dihargai dirinya sebagai manusia, sebagai warga negara dan sebagai apapun itu.

Kelima, kebutuhan akan aktualisasi diri. Maslow menempatkan kebutuhan ini dibagian akhir karena dianggap sebagai kebutuhan yang paling tinggi. Pada tingkat ini manusia ingin berbuat sesuatu yang merupakan keiinginan dari dalam dirinya. Dia ingin menuntut penghargaan orang lain atas apa yang diperbuatnya. Sesuatu yang dikejar dalam tahap ini adalah keindahan, kesempurnaan, keadilan dan kebermaknaan.

Sudah jelas ta, kita sekarang tahu dimana posisi kita dalam tingkat penyebab kesetresan haha. Kemudian, saran saja jika kita stres jangan lakukan hal yang bodoh dan merugikan. Tahu lah, sekarang banyak orang-orang nekat, gak pikir panjang. Kita sebagai orang beriman, sebagai orang yang bermoral, janganlah sampai melakukan hal-hal tersebut. Stres itu biasa, belajarlah dari kesetresanmu tuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Wassalamu'alaikum wr. wb
Share:

Rabu, 15 Januari 2020

Sebut Diriku : "PECUNDANG"

 



Assalamu'alaikum Wr.Wb
Terkadang salah satu motivasi kita dalam hidup ini adalah untuk mengalahkan seseorang, dalam prestasi, pencapaian, pertandingan, kompetisi, persaingan, dan lain-lain. Sifat manusia yang selalu ingin menjadi bahan perhatian mendorong kita untuk selalu menjadi yang terbaik dan yang pertama. Pujian seolah-olah sudah menjadi alasan utama untuk mengalahkan orang lain.

Ada pepatah mengatakan : "Musuh terbesarmu bukanlah yang terkuat, bukanlah yang paling pintar, bukan yang mampu mengalahkan ratusan orang, tetapi musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri”.

Benar, saya turut mengiyakan. Esensi mengalahkan itu bukanlah seberapa hebat dan kuatnya kita di mata orang lain, atau apakah kita bisa mengalahkan seseorang atau tidak, tapi apakah kita mampu mengalahkan diri sendiri. Kadang mengalahkan diri sendiri itu jauh lebih sulit daripada mengalahkan seorang lawan dan musuh.

Tentunya banyak hal bisa dilakukan untuk mengalahkan diri sendiri, setiap orang punya caranya masing-masing. Secara umum bisa kita katakan mengalahkan diri sendiri adalah cara kita menekan, menghindari, melawan sifat-sifat buruk yang ada pada diri kita. Misalnya malas, ego, penakut, mudah emosi dan lain sebagainya. Mudah mengatakan, tapi sulit melakukan. Ya memang begitulah, sama halnya ketika saya menulis tentang hal ini. Saya masih seorang pecundang.

Berdasarkan dari pengalaman, kita selalu kalah melawan diri kita sendiri dikarenakan seringkali kita memberikan maklum dan pemaafan yang tidak seharusnya. Seperti contoh, saat kita menganggap biasa yang seharusnya tidak dilakukan, maka terus menerus kita akan merasa bahwa melakukan hal tersebut bukanlah suatu kesalahan. Sampai paragraf ini, saya masih seorang pecundang.

Mungkin beberapa hal dibawah ini yang sering kita rasakan dan sulit sekali untuk kita hindari :
1. Mudah tersinggung
Tentunya kita sebagai manusia memiliki ego dengan kadar ego yang berbeda-beda. Semakin kita menjungjung tinggi ego pribadi, maka semakin mudah kita akan tersinggung. Bukan berarti kita membiarkan atau merasa tidak keberatan jika orang lain bersikap tidak baik kepada kita, akan tetapi jangan biarkan sikap orang lain menentukan reaksi dan tindakan kita.

Misalnya yang sering, hilihhh.. banyak gaya ah, sok alim, sok pinter, banyak teori gak ada praktek. Banyak kata-kata bijak tapi gak bisa nglakuin. Munafik ah.. ngomong doang si gampang. yaa begitulah, tentu masih banyak contoh-contoh lain. Pada tahap ini, saya masih seorang pecundang wkwkwk

2. Hidup seolah hanya tentang menang dan kalah
Sebagian orang mungkin memandang hidup sebagai menang dan kalah. Saat menang kita berjaya, seenaknya, gembira tiada tara. Saat kalah kita merasa seperti pecundangnya pecundang, gundah gulana, gak nafsu makan akhirnya mati wkwkwk.

Bagi orang-orang tersebut, tak ada kata mengalah karena mengalah sama saja dengan mengaku kalah. Entah itu dalam berbicara, menyampaikan pendapat dan lain sebagainya. Jangan terbiasa memaksakan orang lain melakukan ide kita. Begitu juga kita tentu juga merasa keberatan jika dipaksa untuk melakukan ide orang lain. Saling paksa memaksa seperti itu, tentunya hanya akan merasa diri kita dengan ide kita tersebut adalah lebih baik dan benar dari pada ide orang lain. Mengupayakan kebersamaan tentunya lebih baik sehingga tidak akan muncul ke-akuan.

3. Belajar untuk mendengar
Alhamdulillah.. sampai sekarang telinga kita masih berfungsi dengan baik dan normal kan? maka dari itu, coba belajar untuk mendengar. Jangan cuma ingin didengar tapi tak mau mendengar. Tumann ! hahaha..  Jangan merasa menjadi yang paling penting dan harus selalu diperhatikan, hidup harus seimbang, ada hak tentu juga ada kewajiban. Kedengarannya mudah, tapi sulit dipraktikkan. Saya juga.

4. Bukan apa yang kita dapat, tapi apa yang kita berikan
Hampir senada dengan poin nomor 3, jangan ingin selalu diberi, meminta, menuntut. Coba juga lihat, apa yang sudah kita berikan. Mungkin sebagian orang pernah, waktu sd jika dapat ranking 1 nanti akan dibelikan hadiah sama orang tua. Sama-sama enak kan, anak memberi ranking 1 dan perasaan bangga kepada orang tua. Begitupun orang tua memberikan hadiah dan perasaan senang kepada anaknya.

Kita sering merasa kekurangan, kita menginginkan ini itu, ingin diperhatikan, ingin didengarkan. Itu saat kita butuh. Sebaliknya, saat kita memiliki banyak hal juga tidak pernah mau berbagi dan memberi karena kita merasa itu adalah hak kita. Sering terjadi. Dan dari sinilah sering muncul konflik. Jika sudah begini sebaiknya lebih banyak berdoa, supaya jika ada yang rusak dalam diri kita Tuhan bisa menunjukan dan memperbaikinya. Aamiin...

5. Mengalahkan diri sendiri dari pada mengalahkan orang lain
Berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, yang memiliki kehidupan perekonomian lebih baik, dan sebagainya, tentu sah-sah saja. Tetapi, dari mana kita bisa menilai bahwa diri kita sudah lebih baik dari sebelumnya? Kalau patokan kita masih hanya orang lain, kalau kita ingin lebih sukses hanya agar bisa menunjukkan kalau kita lebih baik dari seseorang, misalnya, maka itu bisa bahaya karena motivasi kita hanya ego. Boleh saja kita termotivasi dengan perjuangan dan sikap atau kesuksesan orang lain, tapi bukan untuk membanggakan diri di depan mereka.

Lebih baik, motivasi kita adalah untuk ”mengalahkan” diri sendiri atau untuk mengeluarkan potensi terbaik yang Tuhan sudah taruh dalam diri kita.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb





Share:

Minggu, 10 November 2019

SIMBA : Hakuna Matata Tentang Usahamu



Assalamu'alaikum wr. wb

Tahu kisah simba si anak singa? Kalau belum tahu silahkan tonton dulu. Banyak versi dari kartun jaman jadul hingga versi yang sekarang dengan visual yang lebih nyata. Kalau sudah nonton, silahkan baca berikut ini hahaha..

Sudah tak terhitung saya menonton film ini, dari yang versi jadul hingga yang versi sekarang dengan cerita yang sama persis, atau bahasa enaknya "plek". Tapi baru akhir-akhir ini nonton jadi terpikirkan tentang pembelajaran-pembelajaran bisnis maupun usaha dari sudut pandang saya, wkwk lalu dari kemarin pas nonton ga mikir apa-apa? hahaha jawabnya adalah tidak.

Banyak hal yang tak terduga bisa terjadi
Di dunia ini sangat banyak sekali hal-hal yang tidak bisa kita prediksi. Katakanlah kita sudah menyusun rencana dengan matang / sempurna, apakah jaminannya adalah sesuai apa yang kita harapkan? kemungkinan memang iya, tetapi kemungkinan lainnya adalah tidak. Lah kok gitu? ya memang gitu, karena kita bukanlah pihak yang bisa menentukan, kita hanya perencana.

Coba lihat Simba, ayahnya yang sangat tangguh dan sangat dicintainya, Mufasa tiba-tiba meninggal dunia ketika terjadi suatu insiden. Apalagi dia harus meninggalkan rumah dan keluarganya dengan membawa rasa bersalah yang sangat mendalam. Tahta ayahnya diambil oleh pamannya dengan cara yang sangat licik. Simba kecil yang masih polos sangat bingung dan terpukul, apalagi dia masih dalam usia tumbuh dan belum bisa apa-apa.

Lantas gimana seharusnya? mudahnya kita harus punya banyak rencana. Ketika rencana A gagal, kita tahu apa yang harus dilakukan dengan rencana B. Jangan psimis sangat betul sekali, tapi terlalu optimis juga kurang bagus. Karena saat rencana kita gagal kita akan bingung sebingung-bingungnya, entah apa lagi yang harus dilakukan. Seperti saat kalian terlalu cinta, terus harus pisah, galau berkepanjangan hahaha

Bekerja keras itu baik, tapi kita harus bekerja pintar. Ketika kita sadar bahwa rencana A tidak berhasil, maka kita harus mencoba untuk memodifikasinya dan mencari jalan lain yaitu rencana B, C dan lainnya.

Jangan terlalu menyesali kegagalan
Coba ingat kembali, saat Simba merasa sangat bersalah dan menyesal ketika Mufasa (ayahnya) tewas dibunuh oleh pamannya sendiri, Scar. Ayahnya sempat kecewa dengan Simba karena pernah tidak patuh pada perintah ayahnya. Barulah saat dia kehilangan ayahnya akibat suatu insiden, ia sadar bahwa seharusnya dia tidak pernah melakukan hal tersebut.

Sama halnya dengan usahamu, rencanamu, bisnismu. Adakalanya usaha kita mengalami kegagalan dan menyebabkan kerugian. Perasaan sedih dan kecewa akan muncul, tapi kita harus segera sadar bahwa menyesalinya terus menerus bukanlah sebuah solusi, tapi merugikan sebuah kerugian yang sebenarnya karena tidak akan mengubah apapun. Masih ada hari esuk dan selanjutnya untuk kita berjuang. Lebih persiapan diri kita untuk mengecilkan kemungkinan kegagalan-kegagalan.

Mau lanjut poin selanjutnya tapi malas ngetiknya, dikit aja wis ya, mga manfaat heuehu

Wassalamu'alaikum wr. wb


Share:

Selasa, 05 November 2019

Allah sedang Mengadakan Lomba, Kita adalah Pesertanya


Assalamu'alaikum wr. wb

Seperti biasa, diawal tulisan saya akan mulai dengan bercerita, asik kan heuheu.. jadi begini..
Suatu hari, kiki menemukan sebuah pengumuman akan diadakannya event lomba lari yang menjanjikannya hadiah yang cukup besar. Kemudian, kiki ikut mendaftarkan diri sebagai peserta lomba.

Skip ya, tibalah pada hari diselenggarakannya event lomba tersebut. Namun, ketika tiba di tempat perlombaan, kiki memerhatikan dan ternyata ada suatu yang aneh. Pasalnya kiki tidak menemukan peserta lain selain dirinya, yang ada hanya panitia dan beberapa penonton, dan sekali lagi tidak ada peserta lain selain kiki seseorang. Kiki kemudian bertanya kepada panitia, mereka mengkonfirmasi bahwa memang peserta lomba hari itu hanya Kiki. Meskipun begitu, pihak panitia tidak berencana untuk membatalkan perlombaan itu meskipun hanya diikuti oleh satu peserta.

Dalam posisi seperti itu, sekiranya tentu akan muncul satu pertanyaan yang nampaknya harus di jawab oleh Kiki sebagai satu-satunya peserta lomba. "Apa yang mungkin dilakukan kiki jika dalam perlombaan itu hanya ia yang menjadi peserta?" Maka tidak aneh kalau Kiki sebagai satu-satunya peserta akan menjawab, "Ya sudahm kalau memang cuma saya, saya tetap melaksanakan perlombaan itu, meskipun mungkin akan lebih santai, tidak perlu terburu-buru, tidak perlu cepat, mampir warung dulu ah jajan es, yang penting kan sampai garis finish."

Gimana sudah paham belum dengan ilustrasi diatas? kalau belum, akan saya perjelas lagi. Mari kita bawa dalam konteks keberagamaan, bahwa dalam tulisan sebelumnya penulis telah menyinggung tentang isu Kristenisasi, bahwa isu tersebut disinyalir (oleh beberapa kalangan umat Islam) sebagai salah satu faktor semakin menurunnya jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, akan tetapi bukan juga sepenuhnya benar.

Coba buka kembali firman Allah Q.S Al-Baqarah: 148 yang artinya kurang lebih -: "Dan setiap umat memiliki kiblat masing-masing yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu".

Misal penulis katakan, Allah pun sedang mengadakan event lomba. lomba apa? bahwa Dia sedang mengadakan event "Lomba Berbuat Baik". Kalau memang demikian yang Allah inginkan, maka pertanyaanya adalah, "lantas siapa peserta lomba kebaikan tersebut?" Kemudian penulis coba hubungkan dengan Q.S Hud ayat 118 yang mengisyaratkan bahwa jika Allah mau, maka Dia sangat mungkin menjadikan manusia ini menjadi umat yang satu. Meskipun pada kenyataannya justru kita temukan di dunia ini banyak sekali perbedaan, termasuk agama.

Nah, mari kita renungkan. disatu sisi Allah menghendaki keberagamaan, dan disisi lain Allah mengadakan event "lomba berbuat baik". Maka akan ketemu titik antara keduanya. Untuk mengaakan lomba, maka sudah seharusnya pesertanya tidak hanya satu, bahwa semakin banyak peserta maka semakin tinggi pula tingkat kompetisinya. Semakin banyaknya keberagamaan agama, maka bukankah itu cukup menjadi alasan untuk masing-masing agama dapat berusaha semaksimal mungkin dalam memenangkan event lomba tersebut?

Maka, berdasar pemahaman diatas (tentang Lomba Berbuat Baik), penulis kemudian kurang sepakat jika kita sebagai umat Islam menolak upaya Kristenisasi yang telah dibahas pada tulisan sebelumnya, apalagi penolakan itu dengan menggunakan cara kekerasan. Apa salahnya jika mereka memang berniat membantu orang miskin? Apa salahnya jika - katakanlah - mereka memang punya maksud mengkristenkan orang-orang miskin melalui pemberian bantuan-bantuan? lantas apa salahnya jika yang dibantu mengikuti keyakinan orang yang memabntu dan memperhatikan hidup mereka?

Coba kita tanya pada diri kita, "benarkah sikap kita yang membenci umat lain yang sedang berdakwah? benarkah kita (dengan membawa dalih agama) melakukan intimidasi terhadap mereka yang berbeda dengan kita? Apakah dibenarkan pula kita mengahalangi orang lain berbuat baik mengatasnamakan agama mereka, sementara di agama kita sendiri menyuruh hal yang sama?"

Jika kita yang mengaku beragama memahami betul esensi dar event lomba ini, maka kita tidak seharusnya menjadikan kebaikan dan kesuksesan umat agama lain dalam dakwah sebagai sesuatu yang perlu dibenci dan dihilangkan. Melainkan bisa kita jadikan - semacam - pemicu untuk kita bisa lebih baik dari mereka, motivasi untuk kita bisa lebih sukses dari pada mereka. Jadi, bukan kemudian mencaci mereka, menuduh mereka sedang menyesatkan umat Islam atau istilah lain yang pada dasarnya itu negatif. Ya, kalau memang kita dapati bahwa menyantuni itu bisa menjadi salah satu metode dakwah yang efektif, kenapa kita tidak mencoba meniru?????

Pada akhirnya, satu hal yang tidak boleh terlupa oleh kita sebagai manusia adalah bahwa kita saat ini masih dalam situasi bertanya-tanya. Kita bisa katakan, sudah rajin sholat, rajin puasa. akan tetapi. tidak ada yang bisa memastikan bahwa ibadah dan penghambaan kita kepada Allah tersebut bisa benar-benar menjadi jaminan kita kelak mendapat tempat terindah disisi-Nya. Kita sekarang masih dalam proses mencapai garis finish. Bisa jadi yang sekarang diurutan paling belakanglah akan tampil sebagai pemenang. Sebaliknya, yang sekarang berada diurutan paling depan tidak menutup kemungkinan diakhir lomba justru sampai garis finish yang paling akhir, atau bahkan bisa jadi tidak pernah mencapai garish finish.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sadari bahwa ada skenario perlombaan yang sedang Allah jalankan dalam penciptaan keberagamaan agama. Kesadaran atas adanya perlombaan ini penting, setidaknya untuk memastikan agar kita tidak santai-santai saja, bahwa kompetisi berbuat baik ini tidak hanya kita saja pesertanya, dan sudah barang tentu di dalam event perlombaan tidaklah dibenarkan untuk melakukan tindakan-tindakan curang, yang dalam hal keberagamaan agama salah satu kecurangannya adalah dengan menjegal agama lain untuk memenangkan agamnya sendiri. Wallahu a'lam.

Wassalamu'alaikum wr.wb


Sumber : Ahmad Muzakkil Anam. Puzzle-puzzle Keilmuan. Yogyakarta: Azyan Mitra Media. 2019
Share:

Minggu, 03 November 2019

"Opo ae manut kue? : Sentimen Keirian"





Assalamu'alaikum wr. wb

Pernah tidak kita merasa benar, bersikap keras dan menantang terhadap sesuatu yang berbeda dari kita? padahal belum tentu yang berbeda dari pandangan kita adalah sebuah kekeliuran, atau mungkin kita sudah terjangkit "sentimen keirian". hah? Sentimen keirian itu apa? kok baru dengar istilah itu. hem jadi gini...

Sentimen keirian semacam adanya rasa iri melihat orang yang berbeda itu memiliki sesuatu yang lebih dari kita, dan kemudian membuat iri itu semakin tinggi saat kita merasa psimis untuk bisa melakukan apa yang mereka lakukan. Misalnya saat kamu menemukan bahwa temanmu bisa bernyanyi dengan sangat bagus, sementara kamu tidak.Jangan lantas kamu mencari-cari dalil yang pada akhirnya kamu gunakan untuk menghukumi temanmu, bahwa menyanyi itu haram. Artinya apa? bisa jadi kebencian kita terhadap satu pihak itu disebabkan atas keirian pribadi kita, iri atas kebaikan yang dimiliki orang lain sementara kita tidak mampu melakukan itu.

Secara sederhana, kata sentimen bisa kita pahami sebagai sikap yang didasarkan pada perasaan yang berlebih-lebihan terhadap sesuatu. sementara iri adalah sikap tidak suka melihat kelebihan orang lain. Artinya, sentimen keirian adalah sikap berlebih-lebihan terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain. Parahnya tidak hanya berhenti pada sikap tidak suka saja, melainkan sampai pada upaya-upaya kurang terpuji untuk menjatuhkan orang lain yang memiliki kelebihan.

Sebagaimana contoh diatas, misalnya mengaharamkan musik, yang mana pengharaman tersebut tidak selalu pure bahwa memang hukumnya haram, melainkan karena motif pribadi yaitu ketidakmampuannya dalam bermain musik sehingga dicarikan legitimasi agama yang diarahkan pada pengharaman musik. Contoh-contoh lainnya bisa juga kita amati dalam kehidupan keseharian kita, buanyaak buanget hahaha.

Lalu apa dalam hal beragama, sentimen keirian juga bisa muncul? jawabnya tentu sangat bisa sekali. Yakni perasaan tidak suka yang amat berlebihan melihat pemeluk agama lain memiliki kelebihan dari kita. Kelebihan ini bisa berupa apa saja yang sekiranya memang memunculkan perasaan ketidaksukaan, bisa materi, bisa perbuatan baik atau bahkan keirian melihat kesuksesan dakwah agama lain. Nah, pada bagian terakhir ini sentimennya tinggi, misalnya jika agama lain sukses dalam berdakwah yakni mampu mengajak yang belum seagama agar mau memeluk agama yang sama, mengindikasikan bahwa akan ada agama lain yang kemudian "kecolongan" umat, heuhueu

Misalnya ada kasus, misalnya, jangan bully saya lurd hahaha.. berkurangnya jumlah agama Islam adalah karena maraknya misi Kristenisasi yang diantara salah satu metodenya adalah memberi bantuan-bantuan kepada orang-orang miskin yang lama kelamaan kemudian mereka diajak untuk meninggalkan agama Islam dan berpindah agama, misalnya.

Lalu ditanya, ini salah siapa? ingat, jangan mudah menghakimi. Mari kita perhatikan, apakah salah jika umat Kristen berdakwah menggunakan metode "memberi"? ataukah juga salah jika kemudian yang diberi pun mau mengikuti ajakan yang memberi perhatian penuh kepada mereka? Sebagian umat Islam mungkin akan mengatakan bahwa keduanya salah, terlebih umat islam yang menukar keimanannya dengan perkara dunia. Sedangkan pihak yang memberi bantuan lantas dibenci dan disudutkan, dan pada tahap lebih lanjut tidak jarang mereka diperlakukan sekehendak hati dengan alasan yang menurut saya sangat absurd, yakni membahayakan umat Islam. Pertanyaannya, sejak kapan kebaikan justru membahayakan agama?

Misalkan anda diajak aksi tolak Kristenisasi, bahkan sampai tindakan pengusiran, lalu apakah ada jaminan bahwa umat Islam yang miskin yang telah dibantu oleh umat non-Islam itu akan ditanggung kebutuhannya oleh umat Islam lainnya? ataukah kita hanya berkepentingan cukup mengusir saja dengan menyombongkan diri "yang penting kita sudah menyelamatkan aqidah mereka", adapaun yang kondisi ekonomi mereka yang sulit, kita tidak melakukan hal-hal yang konkret untuk membantu, dan lagi-lagi hanya bisa mengatakan "rezeki itu sudah diatur oleh Allah, setiap orang punya rezeki masing-masing." begitukah?

Saya merasa kurang setuju jika kita sebagai umat Islam adalah mengahrdik, memojokkan atau bahkan sampai melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji (misalnya intimidasi sampai pengusiran) terhadap kelompok lain yang notabennya sedang menjalankan perintah agamanya. Tapi ketidaksetujuan ini pun juga berarti saya menuruh kita sebagai umat Islam untuk tidak berbuat apa-apa.

Begini, ada pertanyaan "Dalam hal berkurangnya pemeluk agama Islam di Indonesia ini, kenapa kita harus mencari "kambing hitam?" kenapa tak coba kita cari apa yang sebenarnya salah atau mungkin kurang pas dalam diri kita? Saya contohkan seperti ini. Ada sebuah warung makan yang sangat mewah dengan segala fasilitasnya yang sangat mewah pula. Menu yang spesial, eskterior yang glamor, keistimewaan yang ditampilkan ini setidaknya menjadi alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa memang warung makan ini "sempurna".

Namun, kesempurnaan ini akan menjadi aneh jika kita menemukan adanya orang-orang yang awalnya sudah menjadi bagian  dari Warung Makan yang sempurna ini, tiba-tiba mau keluar dan justru lebih memilih warung makan lain yang dalam pandangan kita kurang baik.Akan muncul banyak pertanyaan memang, ini akan menjadi pekerjaaan yang harus kita (sebagai umat Islam) jawab bersama-sama. Bahwa jika dalam pandangan kita bersama bahwa agama Islam merupakan agama paling sempurna, lantas kenapa masih ada saudara-saudara kita yang dengan sukarela keluar dari agama Islam?

Balik lagi ke warung, jadi kenyang haha mantap. Bukan sperti itu, kalau kita jadi pemilik warung makan yang sempurna tadi, apa yang akan kita lakukan? mencari-cari kesalahan warung lain? mencari kambing hitam? atau mencari jarum ditumpukkan jerami?? ahaha gak nyambung. Seharusnya akan muncul evaluasi, misalnya tentang pengelolaan warung makan, apakah pelayanan kita kurang terhadap pelanggan? Mencari apa yang salah dalam diri kita inilah yang menjadi sangat penting untuk dilakukan. Bukan malah mencari kesalahan-kesalahan pihak lain, tidak lantas mengatakan, "ah warung sana pakai jimat, warung sana pakai guna-guna atau apalah sekiranya kita bisa mengatakan bahwa itu salah mereka."

Jika sikap mencari-cari kesalahan pihak lain ini dibarkan berlarut-larut. Maka bisa jadi ini secara tidak langsung mengkonfirmasi mulai munculnya "sentimen keirian" dari umat Islam terhadap agama lain. Jika kita memang sedang iri, bukankah tanpa sadar kita juga telah menerima dan mengkonfirmasi bahwa mereka yang menjadikan kita iri itu lebih baik dari kita? Bagaimana bisa? why not? hahaha bukankah iri adalah sikap tidak suka melihatb pihak lain memiliki kelebihan? Artinya, dalam sikap iri kita, sebenarnya tertanam sikap mengagumi pihak yang membuat kita iri. Semakin kita iri, semakin kita akui bahwa yang membuat kita iri itu lebih baik dari kita. Wallahu a'lam

Wassalamu'alaikum wr. wb

Sumber : Ahmad Muzakkil Anam. Puzzle-puzzle Keilmuan. Yogyakarta: Azyan Mitra Media. 2019
Share:

Sabtu, 02 November 2019

Agama Berpikir, Berpikir Agama







Assalamu'alaikum wr.wb

Malam minggu katanya, malam yang "dibilang" istimewa oleh kawula muda. Gimana tidak, yang sedang pacaran biasa jalan2 keluar kalau ga hujan, kalo ga ldr, yang sudah berkeluarga keluar dengan anak dan istrinya, ditambah lagi besuknya hari minggu yang umumnya pada libur. Syahdu lah.

Seperti malam ini, saya sedang main-main, cuma ngopi sama numpang wifi tepatnya di cafe dekat kos. Disini saya akan bercerita, saya menemui dua orang pelanggan yang juga sedang nongkrong di cafe ini. Mereka sama-sama memesan ayam geprek, mungkin dikosan tidak sempat masak. jadi gini, hahaha. Sebut saja mereka Khafid dan Wahyu. Mereka memesan ayam geprek dengan bumbu saus yang asing bagi keduanya. Setelah mereka memakan makanan yang mereka pesan itu, keduanya memiliki penilaian yang sama. Bahwa Khafid mengatakan enak, dan Wahyu juga mengatakan makanan yang telah mereka makan memiliki rasa yang memang enak.

Meskipun secara penilaian keduanya sama, namun pasca-penilaian yang mereka tunjukkan nyatanya berbeda. Khafid tidak penasaran dengan makanan yang dia katakan lezat itu, ia hanya cukupkan pada keyakinan bahwa tempat dimana mereka makan adalah cafe yang terkenal, maka wajar dan memang sudah seharusnya jika makanan yang disajikan pasti enak. Berbeda dengan Khafid, Wahyu yang juga memiliki penilaian yang sama dengan Khafid terkait makanan yang sama-sama mereka makan ternyata tidak mencukupkan diri hanya meyakini bahwa enaknya makanan yang mereka makan adalah kewajaran dari cafe yang terkenal, dia sangat penasaran dengan makanan yang baru saja dimakan dengan Khafid, terutama penasaran dengan bumbu sausnya. Akhirnya, dari rasa penasaran itulah, dia memberanikan diri untuk bertanya kepada koki yang ada di cafe tersebut, dan anggap saja pada akhirnya Wahyu berhasil mendapatkan resep dari bumbu saus ayam geprek yang enak itu.

Pertanyaan kemudian, manakah yang lebih beruntung? Apakah Khafid yang hanya dapat mencicipi ayam geprek dengan saus llezat? ataukah Wahyu yang disamping mencicipi ayam geprek yang lezat itu juga pulang dengan membawa resep bumbu saus ayam geprek yang telah ia nikmati? Tentulah Wahyu dalam hal ini lebih beruntung dari pada Khafid. Keberuntungan Wahyu kali ini tentu dikarenakan dia mau berpikir dan bertanya perihal ayam geprek itu, tidak seperti Khafid yang tidak mendapat apa-apa selain perut kenyang.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah Khafid dan Wahyu diatas? Setidaknya kita harus jujur mengatakan bahwa berpikir dan menanyakan sesuatu pada akhirnya tidak selalu bermakna "meragukan" apa yang sedang ditanyakan. Karena nyatanya, ada pertanyaan yang dilatarbelakangi motif ketertarikan yang teramat besar.

Dalam beragama pun demikian, adalah terlalu dini jika menuduh orang yang sama-sama beragama dengan mengatakan mereka "meragukan" ajaran-ajaran agama hanya berlandasakan pada anggapan bahwa bertanya berarti ragu. Karena bertanya nayatanya bisa bernilai positif, karena dalam setiap pertanyaan terkandung nilai-nilai kebenaran baru yang bisa jadi tidak akan muncul jika kita tidak mau pertanyakan dari awal. Begitu nggih kawan-kawan wkwkwk. Wallhua a'lam.

Wassalamu'alaikum wr.wb

Sumber : Ahmad Muzakkil Anam. Puzzle-puzzle Keilmuan. Yogyakarta: Azyan Mitra Media. 2019
Share:

Selasa, 29 Oktober 2019

Mari Menyelam: Mengamati Kehidupan Ikan






Assalamu'alaikum wr. wb

Sebelumnya, saya ingin meminta maaf karena memfoto kalian malam-malam begini sebagai objek bahasan blog saya malam ini. Bisa kita lihat bersama, itu adalah foto ikan dalam aquarium kecil. Berdasarkan ciri-cirinya ikan adalah hewan yang bernafas dengan insang, berekor, bersisik, bertelur, hidup dalam air. Nah itu paus dan lumba-lumba apa dong, kan mereka beranak. Kata guru biologi mereka adalah mamalia dengan beberapa cirinya beranak, bernafas dengan paru-paru. Tapi kebanyakan orang menyebutnya ikan paus, ikan lumba-lumba, entahlah terserah. Mungkin bisa disimpulkan juga bahwa yang mirip ikan belum tentu ikan, apalagi yang hanya ada di air, itu ada penyelam, batu karang, rumput laut, bangkai kapal sudah pasti mereka bukan ikan. Jangan mudah menilai.

Ikan itu enak kok kalau digoreng, dipepes, apalagi dibakar. Bisa kita browsing di google tentang manfaat mengonsumsi ikan, pasti akan keluar ratusan bahkan ribuan tulisan tentang kandungan protein, atau macam-macam vitamin yang sangat banyak jika dituliskan disini. Ngomong-ngmong soal ikan, apa ada ikan yang dari lahir segitu hingga dewasa juga segitu? seperti tidak ada pertumbuhan. Makan iya, tapi kok gak gede-gede. Pasti orang tuanya sangat sedih, seperti orang tua kita ya kan, ya kan.

Ikan yang hidup dilaut sana, apa dagingnya juga asin ya? sepertinya tidak. Lihat saja kalau ibu kita masak, pasti saat goreng ikan masih dibumbui dengan garam. kok bisa ya, hidup ditempat asin tapi tidak tertular asin. Yah emang begitu si, entah penelitiannya bagaimana itu. Tapi dari hal tersebut kita belajar, jangan mudah terpengaruh dengan lingkungan. Silahkan berteman dengan siapapun, teman baik teman buruk silahkan saja. Toh seburuk-buruknya teman juga pasti ada hal baiknya. Selagi kita punya prinsip / benteng yang kuat, tentu tidak akan mudah terombang ambing dengan arus pergaulan kita.

Ikan pun begitu. Lautnya asin, eh dia punya antobody asin mungkin kali ya jadi ga tertular asin. Selain itu benteng fisiknya juga mantap, kuat nerjang ombak, angin, badai dan kawan-kawannya. Lalu adakah ikan yang berenang mundur? badannya bergerak mundur begitu dari ekornya, tapi sepertinya tidak ada. Anggap saja itu sebuah visi kedepan menggapai tujuan, lebay banget. Kalau manusia, kadang maju kadang mundur. Maju ketika ada kawan-kawannya, mundur pas ga ada yang dukung haha jago kandang. Bukan begitu juga. Manusia perlu tujuan yang ingin dicapai. Demi mencapainya ia harus terus maju, ketika sudah tercapai maka buatlah tujuan-tujuan baru lainnya, agar selalu bergerak maju. Jangan sedikit-sedikit galau, pasrah, "sudah takdir kok". Haduh.. arek gendeng. Konsep rejeki ya kan sudah jelas, ikan yang sehat, giat, lincah, besar, ketika si bos menaburkan pakan pasti dengan sigap menjemput pakannya. Ya bagitulah manusia, Gusti Allah ngasig rejeki, dan kita hanya diam dirumah misalnya, ya tetep kebagian si mungkin, tapi cuma sedikit, paling sisa-sisa manusia lainnya. Beda lagi kalau kita giat, aktif, semangat, bisa jadi rejeki kita jadi berkali-kali lipat. Mantul kan?

Balik lagi ke ikan, intinya gini wis. Contohlah ikan yang teguh pada pendiriannya, tidak mudah terkontaminasi dengan lingkungannya. Jika kita tidak bisa mewarnai hidup orang kain dengan kebaikan, paling tidak kita tidak bisa dipengaruhi oleh orang lain untuk melakukan keburukan dan sesuatu hal yang bersifat negatif, apalagi malah kita yang mempengaruhi orang lain untuk berbuat buruk hahaha parah. Kemudian yang terakhir adalah beradaptasi dengan lingkungan bukan berarti kalah dan menyerah pada keadaan, sehingga kita kehilangan jatidiri, melainkan tetap hidup sesuai ketentuan Allah tanpa harus merasa diganggu dan terganggu. Wallahu a'lam.

Wassalamu'alaikum wr. wb.
Share:

Kamis, 24 Oktober 2019

Kemiskinan Perspektif Al-Qur'an : Penyebab & Solusi



            Bagaimana Islam memandang kondisi kemiskinan? Sebagai sebuah sistem hidup, Islam adalah agama kesejahteraan dan sebaliknya membenci kemiskinan. Sampai-sampai tujuan syariah yang paling utama adalah menciptakan kesejahteraan, dalam hal ini hifdh al-mal (penjagaan harta). Harus diakui, kemiskinan bagi umat Islam adalah musuh paling berbahaya sebab kemiskinan memungkinkan manusia berpaling dari Tuhannya sehingga menjadikan orang yang kafir, sedangkan kafir adalah kebalikan dari Islam itu sendiri.
            Kata miskin merupakan kata benda, yang berasal dari kata sakana-yaskunu-sukunan/miskin yang berarti “diam”, “tetap”, atau “reda”. Kata miskin dan yang seasal dengannya disebut sebanyak 69 kali dalam Al-Qur’an. Dari 69 kali itu, khusus yang bermakna kemiskinan sebanyak 23 kali, 11 kali diantaranya dalam bentuk tunggal (miskin) dan 12 kali dalam bentuk jama’ (masakin).[1]
            Selain itu, masih ada beberapa ayat lain yang menyebutkan kata yang sejenis dengan kemiskinan, seperti kata faqir, fuqara’, ba’s, sail, qani’, mu’tarr, dha’if, atau mustadh’afin. Banyaknya kata ini dibahas dalam Al-Qur’an menunjukkan betapa kemiskinan merupakan fenomena tak terpisahkan dalam kehidupan ini dan Al-Qur’an memberi perhatian sekaligus solusi untuk hal tersebut.
            Kata miskin menurut Al-Asfahani dan Ibnu Manzhur sebagaimana yang dikutip dari Esiklopedia Al-Qur’an berarti ‘tetapnya sesuatu setelah bergerak’. Dalam istilah agama, kemiskinan berarti orang yang tidak memperoleh sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan diam itulah yang menyebabkan kemiskinannya. Beberapa pendapat ulama menyebut bahwa arti kemiskinan lebih cenderung disebabkan dari subjeknya sendiri. Dengan kata lain, kemiskinan dalam definisi ini bukan mengarah kepada kemiskinan yang bersifat struktural.
            Definisi diatas menunjukkan kemiskinan terjadi disebabkan oleh “aksi diam” seseorang dalam menggapai tebaran rahmat Allah yang terbentang di alam ini. padahal, Allah sendiri tiada putus-putusnya memberi fasilitas secara tak terhbatas yang dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai bekal kehidupannya. (Lihat Q.S Hud : 6). Dengan kata lain, Allah tidak pernah berhenti memproduksi sumber daya alam yang terbentang luas di dunia ini yang disiapkan bagi semua makhluk di muka bumi ini. Manusia yang senantiasa “bergerak” akan menjadi kaya sedangkan manusia yang “diam” akan menjadi miskin.
            Menelusuri kemiskinan dalam Al-Qur’an, terlihat bahwa terjadinya kemiskinan itu tidak hanya disebabkan faktor pribadi yang tidak berusaha secara baik sehingga tidak mendapatkan penghasilan. Namun, Al-Qur’an juga mensinyalir bahwa kemiskinan yang terjadi itu disebabkan sistem kemasyarakatan (baca:penguasa) yang membuat masyarakat tersistem jadi miskin dengan kebijakan yang diperbuat atau yang bisa disebut kemiskinan struktural.
Pada dasarnya miskin dan kaya adalah sunnatullah sebab tiada orang kaya tanpa orang miskin, sebaliknya, tiada orang miskin tanpa orang kaya. Al-Qur’an menyebutkan bahwa kaya miskin adalah sebuah sistem dalam kehidupan. Keduanya merupakan perangkat dari sistem itu sendiri, ketiadaan yang satu akan menafikan yang lainnya. Tidak ada orang kaya tanpa orang miskin, dan orang miskin pasti selalu membutuhkan orang kaya sebagai “sumber” rezeki. (Lihat Q.S. Az-Zukhruf : 32). Oleh karena itu, keduanya haruslah saling mengerti dan memahami, ketika kaya-miskin mau saling “berkoordinasi”, akan terciptalah negeri yang makmur.
Al-Qur’an sendiri telah menyiapkan seperangkat perintah dan alat bagi manusia untuk menunjuk manusia dalam mengentaskan kemiskinan. Pertama,Allah menyuruh setiap individu untuk melakukan usaha mencari rezeki secara maksimal dalam memperoleh kebutuhan hidupnya. Allah telah menyiapkan rezeki di dunia ini untuk manusia (Lihat Q.S. Al-Qashash:77). Oleh karena itu, Islam adalah agama yang menagajrkan etos kerja bagi umatnya untuk “menjemput rezeki”.
Kedua, Allah menyuruh kepada sesama untuk saling memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan (Lihat Q.S. An-Nur: 22). Dalam konteks ini, terjadilah apa yang disebut dengan interdependensi (saling ketergantungan) antara si kaya dan si miskin. Keduanya hendak bisa saling membantu dan saling mengerti posisi satu sama lain.
Ketiga, dibutuhkan political will pemerintah untuk memperhatikan mereka yang kurang mampu dengan berbagai instrument, seperti zakat, sedekah, dan modal kerja. Hal ini sebagaimana diperintahkan Allah dalam firman-Nya (Lihat Q.S. At-Taubah: 60). Sampai disini, betapa Al-Qur’an itu adalah kitab suci yang lengkap karena di dalamnya terdapat seperangkat norma dan segala hal dijelaskan secara detail, mulai dari menyikapi fenomena kemiskinan, memberi motivasi kepada setiap individu untuk meraik rezeki yang disiapkan Allah, hingga menyiapkan sejumlah instrument ekonomi lainnya sebagai “aturan baku” negara untuk mengentaskan kemiskinan. Jika demikian, mengapa kita tidak belajar saja dari Al-Qur’an? Wallahua’lam.


[1] Quraish Syihab, dkk., Ensiklopedia Al-Qur’an (Kajian Kosakata), (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. 610


Share:

TERJEMAHKAN BLOG INI

PENGUNJUNG SAAT INI